Blog ilmu bayoe ini tempat berbagi informasi seputar farmasi, kesehatan, dan lain-lain

Vaksin Imunisasi Campak

Campak adalah penyakit yang sangat potensial untuk menimbulkan wabah. Penyakit ini dapat di cegah dengan pemberian imunisasi campak. Tanpa program imunisasi attack rate 93.5 per 100.000. Kasus campak dengan gizi buruk akan meningkatkan CFR. Masalah kematian campak di dunia yang dilaporkan pada tahun 2002 sebanyak 777.000 dan 202.000 diantaranya dari Negara ASEAN serta 15 % dari kematian campak tersebut dari Indonesia.
Program imunisasi campak di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberikan 1 dosis pada bayi usia 9 bulan. Pada awalnya cakupan campak sebesar 12,7 % di tahun 1984 kemudian meningkat sebesar 85,4 % pada tahun 1990 dan bertahan pada 90,6 % di tahun 2002, pada tahun 2004 cakupan naik menjadi 91.8 %.
Jumlah kasus campak menurun pada semua golongan umur di Indonesia terutama pada anak-anak dibawah lima tahun pada tahun 1999 s/d 2001, namun setelah insidens rate tetap, dengan kejadian pada kelompok umur < 1 tahun dan 1-4 tahun selalu tinggi dari kelompok umur lainnya. Pada umumnya KLB yang terjadi di beberapa provinsi baik yang telah melakukan strategi ke 2 atau tidak, menunjukkan kasus tertinggi selalu pada golongan umur 1-4 tahun.



Pelaksanaan Imunisasi Campak mengenai vaksin

Untuk melaksanakan kegiatan imunisasi Campak harus menghitung terlebih dahulu kebutuhan logistic  terutama vaksin dengan cara :
  • Vaksin dengan kemasan 10 dosis per vial. Menghitung kebutuhan vaksin campak sebagai berikut ;


  • Kebutuhan ADS 5 ml = jumlah vaksin 9vial) + 5 % (sebagai cadangan)
  • Kebutuhan ADS 0,5 ml = jumlah sasaran balita + 5 % sasaran (sebagai cadangan)


  • Ketersediaan Cold Chain : petugas sebaiknya sudah menginventarisasi cold chain yang tersedia, jumlahnya, jumlah yang masih berfungsi/ dapat digunakan, lokasinya, kekurangannya, kemungkinan mendapatkan dukungan dari sumber lain (contoh : swasta), ketersediaan ruang penyimpanan/ kemampuan menampung vaksin.


Cara pelarutan Vaksin

  • Pelarut hanya dilakukan bila ada anak yang datang untuk imunisasi.
  • Pelarut harus berasal dari produsen yang sama dengan vaksi yang digunakan. Pelarut yang digunakan adalah aquabidest.
  • Vaksinasi yang boleh dipakai hanya vaksin yang belum kadaluarsa dan VVM masih criteria A dan B.
  • Vaksin campak yang telah dilarutkan dan tidak digunakan dalam waktu 6 jam harus dibuang. Oleh karena itu hanya boleh melarutkan 1 vial vaksin dan baru boleh melarutkan vaksin lagi bila vaksin pada vial sebelumnya sudah habis dan sasaran masih ada. Mencatat jam pelarutan vaksin campak pada label vial vaksin.
  • Satu ADS 5 ml yang digunakan untuk melarutkan vaksin hanya boleh untuk satu kali penggunaan saja.
  • Memperhatikan prosedur aseptic
  • Memastikan 5 ml cairan pelarut vaksin terhisap dalam ADS pelarut kemudian baru melakukan pencampuran dengan vaksin kering campak.
  • Vial vaksin tidak boleh dikocok tetapi vial diletakkan diantara dua telapak tangan kemudian diputar (rolling between the palms of your hands) agar vaksin dan pelarut tercampur rata dan mencegah terjadinya abses dingin.

Vaksin yang sudah dilarutkan harus dibuang bila :

  • Ada kecurigaan vaksin terbuka terkontaminasi seperti terlihat kotoran dalam vial, atau vial terjatuh dan tutup karet kontak dengan bahan yang tidak steril
  • Ditemukan bukti yang jelas terjadi kontaminasi seperti adanya partikel yang mengapung atau perubahan bentuk.
  • Bila vaksin sudah dilarutkan lebih dari 6 jam.

Cara pemberian Vaksin Campak

  • Imunisasi campak diberikan pada balita (6-59 bulan) dan anak kelas 1 s/d 5 SD tanpa melihat status imunisasi dan riwayat terkena penyakit campak.
  • Imunisasi dilakukan dengan menggunakan alat suntik tersebut dimaksudkan untuk menghindari penularan penyakit HIV/AIDS, Hepatitis B dan C.


Cara penyuntikan :

  • Buka tutup torak dan tutup jarum (ADS 0,5 cc)
  • Tusukan jarum tersebut ke vial vaksin
  • Pastikan ujung jarum selalu berada di dalam cairan vaksin, (jauh di bawah permukaan cairan vaksin) sehingga tidak ada udara yang masuk ke dalam semprit.
  • Tarik torak perlahan-lahan  agar cairan vaksin masuk lagi ke dalam semprit, sampai torak terkunci secara otomatis, torak tidak dapat ditarik lagi.
  • Cabut jarum dari vial, keluarkan udara yang tersisa dengan cara mengetuk alat suntik dan mendorong torak sampai pada skala 0,5 cc.
  • Bersihkan kulit dengan kapas dan air matang, tunggu hingga kering, kemudian suntikan vaksin secara subkutan di lengan kiri atas, pertengahan M.deltoideus. Dengan memegang lengan seperti mencubit dengan menggunakan ibu jari dan jari tengah. Kemudian jarum suntik disuntikkan dengan sudut 45 derajat terhadap permukaan kulit, dengan kedalaman jarum tidak lebih dari ½ inchi. (lakukan aspirasi sebelumnya untuk memastikan jarum tidak menembus pembuluh darah).
  • Setelah vaksin masuk, jarum dikeluarkan, kemudian kapas ditekan pada bekas suntikan, jika ada perdarahan kapas tetap ditekan pada lokasi suntikan hingga darah berhenti.


Perhatian !
Alat suntik bersifat sekali pakai, maka torak tidak boleh ditarik sebelum jarum tersebut ditusukkan ke dalam vial vaksin. Torak yang sudah ditarik sebelum diisi vaksin tidak dapat digunakan lagi.

Pemeliharaan Cold Chain selama pelaksanaan Imunisasi

  • Vaksin campak sangat sensitive terhadap panas dan cahaya langsung dan menjadi semakin sensitive bila sudah dilarutkan. Oleh karena itu di lapangan vaksin tersebut harus tetap di simpan pada suhu 2-8 derajat Celcius, dengan menggunakan vaccine carrier yang berisi cold pack. Sehari sebelum pelaksanaan kampanye pelarut disimpan pada suhu 2-8 derajat Celcius, kemudian sewaktu dibawa ke pos pelayanan, diletakkan dalam vaccine carrier bersama vaksin.

  • Pada saat pelarutan suhu pelarut dan vaksin harus sama.
  • Sebelum sasaran datang vaksin dan pelarut harus disimpan dalam vaccine carrier yang tertutup rapat.
  • Petugas imunisasi tidak diperbolehkan membuka vial baru sebelum vial lama habis.
  • Bila sasaran belum datang, vaksin yang sudah dilarutkan harus ilindungi dari cahaya sinar matahari dan suhu luar, seharusnya dengan cara diletakkan dilubang busa terdapat diatas vaccine carrier.
  • Dalam setiap vaccine carrier sebaiknya terdapat empat cold pack.
  • Bila vaksin yang sudah dilarutkan habis, pelarutan selanjutnya dilakukan bila telah ada anak yang hendak imunisasi.
  • Jangan meletakkan vaccine carrier ditempat yang terkena cahaya matahari langsung.


Kontraindikasi Imunisasi Campak

Vaksin campak sangatlah aman, secara umum tidak ada kontraindikasi. Namun tidak boleh diberikan pada anak-anak yang mengalami penyakit :
  • Immuno-compremised dapat terjadi akibat penyakit dasar atau sebagai akibat pengobat imunosupresan (kemoterapi, corticosteroid jangka panjang).
  • HIV


Imunisasi campak tetap boleh diberikan pada anak dengan kondisi :
  • Malnutrisi
  • Infeksi saluran pernapasan ringan
  • Diare
  • Demam


Praktek Penyuntikan yang aman

Seperti pada pelaksanaan imunisasi rutin, kampanye imunisasi campak ini juga menggunakan alat suntik ADS. Alat suntik ini mencegah penularan pathogen penyakit melalui darah darah dari orang ke orang.
  • Jangan menutup kembali jarum suntik yang telah dipakai, untuk menghindari risiko tertusuk jarum.
  • Jarum suntik habis pakai harus langsung dibuang ke safety box dengan ujung jarum di bawah
  • Jangan menggunakan jarum suntik yang kadaluarsa atau kemasan rusak.



Pemberian kepsul vitamin A

  • Semua bayi umur 6-11 bulan baik yang sehat maupun sakit, mendapatkan 1 kapsul vitamin A 100.000 SI yang berwarna biru
  • Semua anak balita umur 1-<5 tahun baik yang sehat maupun sakit, mendapatkan 1 kapsul vitamin A 200.000 SI yang berwarna merah.

Itulah tadi penjelasan mengenai Imunisasi Campak. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk kita semua.

Salam sehat. 

Sumber : Buku petunjung Teknis Kampanye Imunisasi Campak 
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment